Panitia yang tidak siap
Setiba dari sana saya rupanya agak telat sedikit. Dengan gaya dan pakaian yang agak “perlente” dan langkah kaki yang dibuat mantap untuk melangkah (agar menutupi kekurangan saya, yakni sepatu yang agak jebol tengahnya. he..he..he.. maklum, jadi blogger belum bisa beli sepatu)Hari ini saya menghadiri undangan pernikahan seorang teman, senang rasanya teman-temanku sudah pada mendapat pendamping hidup yang mereka inginkan dan cintai. Lembar undangan datang satu minggu sebelum resepsi, diantar oleh kurir jasa pengiriman. sepulang kerja dan rasa penat belumlah hilang, saya lihat di mejaku tergeletak sebuah kertas undangan dengan kertas bergambar kupu-kupu berwarna biru dan terbungkus rapi dalam sebuah plastik, dilihat dari fisiknya, undangan ini berharga mahal. Meskipun agak sedikit payah segera saja saya baca agar rasa penasaran tidak menghantuiku. Oh dear… si “A” hari minggu ini melangsungkan pernikahan. Resepsi diselenggarakan di sebuah gedung mewah di Surabaya. Huebat juga tuh temanku yang satu ini, semakin sukses saja.
Setelah tahu siapa yang mengundangku, kembali saya berbenah untuk meneruskan kebiasaan yang selama ini jika setelah pulang kerja musti mandi. Hari berganti sampai akhirnya hari minggu tiba, sehabis menyiapkan segala sesuatu, saya langsung meluncur ke alamat resepsi dilaksanakan. Setiba dari sana saya rupanya agak telat sedikit. Dengan gaya dan pakaian yang agak “perlente” dan langkah kaki yang dibuat mantap untuk melangkah (agar menutupi kekurangan saya, yakni sepatu yang agak jebol tengahnya. he..he..he.. maklum, jadi blogger belum bisa beli sepatu), langsung saya masuk gedung tersebut yang ternyata disana sudah banyak para undangan lain yang datang terlebih dahulu. Sebelumnya tentu udah mengisi buku tamu tamu dan memasukkan sebuah “amplop” ke dalam “celengan semar”. Disana saya banyak bertemu teman-temanku yang juga diundang. Karena saya tidak ingin ketinggalan “berita acara” langsung saja saya menuju podium dengan banyak pengantri yang sudah mendahului saya. Pikirku, nih mau salaman ama pengantin saja seperti antri sembako he..he..he.. akhirnya giliran saya jatuh juga, sambil cipika-cipiki (cium pipi kanan cium pipi kiri red) dengan pengantin lakinya saja jreng, kalo pengantin perempuannya ya enggak dong dan dengan senyum tersungging di bibirku saya membisikkan kalimat kepada mempelai berdua “selamat ya..” itu saja sudah cukup. mereka pasti tahu apa yang saya maksud (jangan sampai tidak tahu dong) dan mereka menjawab “terima kasih”. Karena yang antri dibelakang saya masih “bejibun”, saya menyegerakan diri untuk segera turun dari podium dan langsung menuju ke “sarang” makanan. wah ini yang ditunggu… tapi…. lagi-lagi saya lihat banyak pengantri, kali ini mereka tidak mengantri untuk salaman, tapi mengantri untuk mendapatkan makanan. Aduh cing… nih dengan pakaian yang agak “necis” begini saya juga harus berebut makanan? antara malu dan enggak, disana juga banyak orang yang berbusana rapi berebut, sambil muka saya tutupi dengan “gedhek” (kalo dibahasa Indonesiakan.. apa ya bahasa yang pas? anyaman bambu untuk penutup rumah pengganti tembok. Biasanya rumah orang-orang tempo doeloe) saya ikut berebut makanan. tapi… lagi-lagi tapi terus nih…ketika giliran saya, makanan sudah habis, undangan masih banyak yang datang, lalu saya pergi ke sebelah sana, tentunya dengan menu makanan yang berbeda saya kembali ikut “berebut” dengan yang lain, dan lagi juga sudah habis ketika giliran saya tiba. Ya sudah nggak papa, tidak dapat juga tidak apa-apa. Saya langsung “ngeloyor” pulang dan di tengah jalan belok ke sebuah warung yang biasa saya singgahi, setelah pesanan diantar, sambil makan saya berpikir…tuh tadi sebuah resepsi kok gitu ya..? apakah tidak dipikirkan dulu antara jumlah orang yang diundang dan jumlah makanan yang disuguhkan. Jika si pengundang sebelumnya meminta bantuan petugas katering yang mereka sewa untuk menghitung, saya yakin petugas kateringnya tidak akan keberatan untuk meng”kalkulasi” kira-kira makanan dan beras dalam sekian kilo akan menjadi sekian porsi. begitukan seharusnya? tapi ini yang terjadi banyak undangan tidak kebagian makan minum. Kalo beginikan malu dong?? betul enggak? akhirnya saya menarik kesimpulan bahwa PANITIA TIDAK SIAP. kalau memang tidak siap jangan mengundang orang dulu, daripada entar malu. Semoga pengalaman ini menjadikan diri saya harus siap jika suatu saat mempunyai anak yang akan dinikahkan. Salam…..






Categories:
Tags:






Namaku Lukito Wiyono. Berasal dari Kota Pahlawan Surabaya. Kota yang panas, yang penuh sesak oleh manusia, kota yang khas dengan teriakan supporter Boneknya, kota yang (selalu) membuat kecewa setiap perantauan yang datang. Kota yang menjanjikan fatamorgana kehidupan, kemewahan dan keangkuhan gedung-gedung pencakar. Dengan makanan Semanggi Suroboyo-nya, dengan rujak cingur-nya, dengan lontong balap-nya membuat aku enggan meninggalkanmu.

