Buah Hatiku Sayang, Maafkan Ayah
Tak terasa umur ini sudah tua. Anakku yang pertama kini sudah kelas 5 SD, dia pintar, di sekolah selalu dapat rangking 1, omongannya tegas, punya karakter kuat seperti ibunya. Aku yakin jika dia besar akan bisa mandiri.
Sedang anakku yang kedua daya fisiknya tidak sekuat kakaknya, dia agak lemah, tapi daya pikirnya aku amati melebihi kakaknya, dia sangat pandai walaupun belum sekolah, pelajaran yang aku berikan meski hanya satu kalipun sampai beberapa bulan jika aku tanya masih ingat. Sudah pandai baca tulis, bahkan setiap hari laptop ini selalu dipakai untuk membuka game online dengan segala macam settingan dia hapal, cari-cari sesuatu di google ataupun buka-buka youtube mencari video upin-ipin atau video entah apa namanya itu yang biasa muncul di TV anak. Kasih sayangku agak condong kepada anakku yang kedua ini, seharusnya ini tidak boleh. Sebagai bapak yang baik seyogyanya harus adil kepada semua anak-anaknya, tetapi aku berusaha untuk selalu adil. Salahkah aku?
Ingatanku melayang dulu ketika istriku mengandung anakku yang kedua, waktu itu aku dalam masa “paceklik”. Anakku dalam kandungan tidak mendapat asupan gizi yang baik, roda ekonomiku waktu itu tersendat, aku hanya bisa mengandalkan gaji per bulan yang “tak seberapa” itu. Akhirnya lahir bocah mungil yang alhamdullilah aku lihat tak kurang suatu apapun.
Jika aku ingat masa-masa itu, aku selalu ingin lebih menyayangi anak keduaku “sebagai balasan” atas apa yang pernah kau terima nak sewaktu dalam kandungan ibumu, maafkan ayahmu.
Berbeda dengan anak pertamaku yang ketika masih dalam kandungan ibunya dia mendapatkan asupan gizi yang baik, ekonomiku waktu itu menggelinding meski tidak terlalu kencang sampai dia lahir menjadi anak yang baik dan cerdas. Dan aku yakin anak yang pertama ini nantinya akan lebih cepat mandiri dibanding adiknya.
Sekarang roda ekonomiku melaju kencang. Aku mendapatkan penghasilan yang lebih besar “diluar” disamping gaji yang aku terima sebagai karyawan. Segalanya sudah aku punya. Alhamdullilah.. sembah sujudku padaMU Ya Allah..semoga hambamu ini termasuk orang-orang yang selalu bersyukur.






Categories:
Tags:








Namaku Lukito Wiyono. Berasal dari Kota Pahlawan Surabaya. Kota yang panas, yang penuh sesak oleh manusia, kota yang khas dengan teriakan supporter Boneknya, kota yang (selalu) membuat kecewa setiap perantauan yang datang. Kota yang menjanjikan fatamorgana kehidupan, kemewahan dan keangkuhan gedung-gedung pencakar. Dengan makanan Semanggi Suroboyo-nya, dengan rujak cingur-nya, dengan lontong balap-nya membuat aku enggan meninggalkanmu.

