Kesederhanaan seorang Ahmadinejad
The Lion From Aradan yang disukai kawan maupun lawan

The Lion from the AradanAhmadinejad awalnya adalah seorang dosen bergelar Ph.D, kemudian dia memasuki ranah politik dengan menjabat Walikota Teheran- Ibukota Iran. Teheran sendiri dikenal dengan julukan kota Paradoks. Kota ini mempunyai populasi penduduk hampir 2 kali lipat jumlah penduduk kota Jakarta. Di Iran, seorang pemimpin biasanya diangakat dari kalangan para mullah. Sedangkan Ahmadinejad bukan dari kalangan para mullah. Dia bukanlah ulama bersorban. Ketika mencalonkan menjadi presiden Iran pun, Ahmadinejad tidak mempunyai modal dibanding lawan politiknya yang menghabiskan uang miliaran dollar untuk biaya kampanyenya, tapi kenyataannya dia dipilih oleh 61% dari total penduduk Iran. Berbeda dengan lawan politiknya yang sewaktu berkampanye selalu penuh gebyar gemerlap, tidak demikian dengan dia. Bahkan untuk mencetak foto diri sebagai atribut kampanye-pun dia tidak sanggup. Mobil yang dia pakai dan belakangan diumumkan sebagai kemewahan tersebesar dirinya adalah Peogeot 504 buatan tahun 1977 beserta sebuah rumah kecil warisan ayahnya 40 tahun yang lalu terletak di salah satu daerah miskin di Teheran. Karena kesederhanaan inilah dia malah dipilih sebagai Presiden Iran. Selama menjadi walikota Teheran dan Presiden Iran-perlu diketahui- Ahmadinejad tidak pernah mengambil gajinya sebagai Presiden meskipun itu adalah haknya, ketika ditanya dia menjawab bahwa seluruh kekayaan adalah milik negara dan dia hanya bertugas menjaganya. Untuk menghidupi anak serta istrinya dia hanya mengandalkan gaji dari dosen “hanya” sebesar US 250 atau sekitar Rp 2.500.000,- hal ini membuat semua kalangan geleng-geleng kepala termasuk saya hingga ingin menuliskan posting ini.
Untuk masalah makanan dia tidak mau disibukkan dengan pelayan masak seperti umunya para presiden lainnya. Dia hanya membawa beberapa roti sandwich dengan minyak zaitun dan keju buatan istrinya. Jika ia bepergian dia hanya “menumpang” pesawat angkutan barang/ cargo dengan alasan menghemat pengeluaran negara. sikap seperti ini mengingatkanku akan kalifah Umar bin cattab R.A sahabat nabi ketika menjadi pemimpin beliau sangat menjaga perut dari makanan yang tidak halal, bahkan untuk keperluan lampu penerangan saja beiau tidak mau memakai fasilitas yang diberikan oleh negara. Lampu rumahnya dihidupkan dikala Beliau sedang menjamu tamu dari negara lain.
Ketika awal menjabat sebagai presiden, sebagian kalangan kawatir akan diberanguskan semua hal yang menjurus kearah budaya barat. Salah satunya adalah internet. Ternyata tidak demikian, dia mengatakan bahwa internet merupakan sumber “cerdas” pembelajaran rakyatnya. Bahkan dia mempunyai sebuah blog sejak 13 Augstus 2006 lalu. Blog-nya dia beri nama ahmadinejad.ir. Blog yang dikelolanya sendiri menampilkan empat bahasa, yaitu Persia, Arab, Inggris dan Prancis. Tulisan pertama yang dia publikasikan dalam blog tersebut adalah curahan masa kecilnya dari keluarga miskin. di blog ini siapapun bisa meninggalkan pesan pribadi yang akan langsung dijawab oleh Dia sendiri. Ketika saya lihat, lima dari sembilan orang yang meniggalkan pesan di blog sang presiden itu adalah dari Amerika yang kesemuanya menyatakan kekaguman kepada Ahmadinejad. anda ingin melihat blognya? silahkan klik link diatas






Categories:
Tags:






Namaku Lukito Wiyono. Berasal dari Kota Pahlawan Surabaya. Kota yang panas, yang penuh sesak oleh manusia, kota yang khas dengan teriakan supporter Boneknya, kota yang (selalu) membuat kecewa setiap perantauan yang datang. Kota yang menjanjikan fatamorgana kehidupan, kemewahan dan keangkuhan gedung-gedung pencakar. Dengan makanan Semanggi Suroboyo-nya, dengan rujak cingur-nya, dengan lontong balap-nya membuat aku enggan meninggalkanmu.


Wah Aku sempet ngeluarin air mata saat baca ttg kearifan dan kesederhanaan presiden yg satu ini….
Mudah mudahn masih banyak ahmaddinejad2 yang lain aminnn