
Sudah menjadi tradisi di Indonesia, mudik hari raya Idul Fitri mengunjungi sanak kerabat kita dikampung. Sayapun begitu. Selepas sholat Idul Fitri di Surabaya kemudian berhalal bihalal dengan para tetangga, saya langsung meluncur ke kampung halaman, Trenggalek (+- 185 KM dari Surabaya). Sebenarnya saya lahir dan dibesarkan di Surabaya, meskipun pada usia 19 Th (lulus SMA) pernah merantau kesana-kemari, tapi yang paling berkesan ketika berada di Batu-malang. Saya menyukai hawanya yang selalu sejuk. Anda bisa baca di about me.
Pada hari raya pertama jalanan di Surabaya lengang, tapi ketika sudah menjauh, terlihat mulai macet, karena banyak yang mempunyai niat sama seperti saya, yaitu mudik. Setiap di sebuah traffic light saya selalu menjumpai kemacetan yang paling dekat 500 M dari pangkal macet. Hal ini terjadi sampai di kota Jombang (jika saya menyebut kota ini tentu anda sudah kenal bukan?? karena beberapa waktu lalu nama Jombang sering disebut-sebut di TV karena ada beberapa kejadian tertentu, masih ingat ponari?). Tapi saya senang meskipun macet, orang-orang ini bertujuan sama dengan saya, Bersilaturrahmi ke sanak famili di desa
Setelah menempuh perjalanan 185 KM dari Surabaya akhirnya sampai juga di Trenggalek- Kota Kripik. Kota ini jika kita lihat sekeliling terhimpit oleh gunung. Jadi kita lihat dengan seksama memang berada ditengah-tengah pegunungan. Keadaan seperti ini mungkin juga bisa kita jumpai jika kita berkunjung ke Fak-fak. kota kecil di Papua ini juga dikelilingi gunung. Jika di Surabaya udara dan hawa ketika saya berangkat masih panas, lain lagi dengan disini (trenggalek red) Disini saya “disambut” dengan hujan, hujan terus-menerus mengguyur kota ini. Meski intensitasnya tidak terlalu sering, tapi setiap hari mesti ada hujan. Hujan membuat berkah para petani yang sebagian besar mata pencaharian penduduk kota ini adalah bercocok tanam. Dimana-mana hamparan sawah ladang terbentang luas. Sejuk untuk dipandang.
Anak-anak pun ceria bermain di pematang sawah. Sempat terbersit pikiran, besok jika saya pensiun dari semua itu, mungkin saya akan menjadi petani saja. Trenggalek menjadi kota pilihan. Kota ini kelihatannya damai dan tentram untuk menghabiskan masa tua disamping tetap “mengabdi” pada sang Pencipta.
Saya hanya beberapa hari berada dikota ini karena terbentur ikatan kerja yang mengharuskan 3 hari setelah hari raya diharuskan untuk masuk lagi. Kok cepat amat ya..?? ya itulah “orang koran”. Aktifitas kembali dijalankan, setelah beberapa hari cooling down sejenak. Pikiran fresh kembali dikantor. kembali seperti hari-hari biasa.

Semoga tahun depan kita semua masih menjumpai bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul fitri. Amienn..


Namaku Lukito Wiyono. Berasal dari Kota Pahlawan Surabaya. Kota yang panas, yang penuh sesak oleh manusia, kota yang khas dengan teriakan supporter Bonek-nya, kota yang (selalu) membuat kecewa setiap perantauan yang datang. Kota yang menjanjikan fatamorgana kehidupan, kemewahan dan keangkuhan gedung-gedung pencakar. Dengan makanan Semanggi Suroboyo-nya, dengan rujak cingur-nya, dengan lontong balap-nya membuat aku enggan meninggalkanmu.





















Asyik juga pemandangan di Trenggalek ya mas. Saya juga mudik ke kampung di Jombang ( 8 km dari Jombang kearah utara). Dulu ngonthel ke SMP I di kota. Kalau hujan becek kalau kemarau berdebu, maklum kampungku belum diaspal. Listrik juga belum ada, jadi pake lampu teplok buatan sendiri, dibuat dari bekas kaleng cat. ha..ha..ha
Kantornya dimana sih mas ? Boleh mampir ? Ehh ngganggu kalee ya.
Btw kalau mau masang ” previous post ” dan ” Next Post ” di postingan gimana mas ? Atau membuat page 1-2-3-4 gitzuu gimana ?
Ngasih tahunya yang gampang2 ya mas, maklum urusan jeroan agak gaptek. Tenan kok.
Saya dulu aktu STM I Jl. Patuha nggak diajari ngeBlog soalnya. hua..hua..hua. Boro2 ngeblog, beli lentho ama semanggi saja ngredit je.
Salam hangat dari Sukolilo
[Reply]